#e39608 Sahila dan Cerita di Sekitarnya - Ferhat Muchtar - Catatan Seru!

Sahila dan Cerita di Sekitarnya




Sahila datang dengan beragam cerita di sekitarnya. Kesedihan yang paripurna, dua hari sebelum ia lahir.
Saat itu, dua bulan lalu, adalah penantian yang menggelisahkan.

Ia tak kunjung ingin keluar dari perut ibunya. Padahal, hari telah mendekati 40 minggu.
Kata dokter dikonsul terakhir, “Seharusnya dia sudah bisa lahir. Lebih-lebih ini anak kedua, perempuan lagi,”
“Kita lihat nanti batas akhirnya, 10 Januari. Mudah-mudahan dia bisa ‘turun’. Kalau nggak, kita operasi,” lanjutnya.
Operasi.
Hal yang kami hindari, terutama istri, Mira. Mengingat ada Uqaiel−abang Sahila−yang baru berumur 19 bulan. Masih lincah-lincahnya. Sulit dibendung lompat sana sini. Makin rewel. Apa jadinya, mengurusi dua bayi dengan perut penuh jahitan.
Saya berulang kali meyakinkan. Serahkan yang terbaik pada ahlinya.
“Kalau dokter bilang harus operasi, ya udah kita jalani aja. Insyaallah ada jalan.”
Tetapi, harapan masih ada. Setidaknya menunggu 10 Januari, batas akhir dari rangkaian 40 minggu.

….

Sahila datang dengan beragam cerita di sekitarnya. Kesedihan yang paripurna, dua hari sebelum ia lahir.
Saat itu, dua bulan lalu, adalah penantian yang menggelisahkan.

Tak ada tanda-tanda mendekati minggu-minggu terakhir. Semakin bertanya-tanya, “Kenapa, ya?”
Rutin setiap hari mendeteksi detak jantung Sahila yang masih nyaman di dalam perut Ibunya. Normal. Tak ada yang mengkhawatirkan.
Penantian yang menggelisahkan ini pun menjadi-jadi.
Kakek Sahila−mertua saya−tiba-tiba masuk rumah sakit. Dadanya sesak. Berulang-ulang batuk dan sulit bernafas. Adir ipar membawanya ke rumah sakit.
Dalam hamil besar,  Mira dan saya sempat menjaga Bapak saat dirawat di rumah sakit. Memastikan kesehatan Bapak dan membuat ia tak terlalu kesepian saat di rawat. Tetapi, itu hanya sekali.
Perut yang semakin besar dan Sahila enggan keluar menjadi perhatian utama kami. Saya dan Mira banyak menghabiskan waktu di rumah. Menyiapkan segala hal untuk persalinan.
Hingga menjelang batas akhir pun, belum terlihat tanda-tanda. Mira masih sanggup untuk melakukan kegiatan rutin di rumah. Terkadang sempat terbesit, “Kenapa belum ada tanda-tanda ya?”
Kembali terngiang ucapan dokter, “Seharusnya dia sudah bisa lahir. Lebih-lebih ini anak kedua, perempuan lagi,”

….

Sahila datang dengan beragam cerita di sekitarnya. Kesedihan yang paripurna, dua hari sebelum ia lahir.

Tiba-tiba kabar dari rumah sakit menghentakkan kami.
Bapak meninggal!
Saat itu, subuh. Masih larut dan gelap. Handphone berdering berulang-ulang. Tak biasanya ada yang menelpon di jam asing ini. Hal mengganjal pun bergelayut.
“Bapak meninggal…” Suara di ujung sana terdengar tersedu-sedu. Parau dan tercekat.
Kaget.
Bukannya Bapak sudah semakin pulih? Bahkan, semalam ia masih sanggup bercengkerama dengan warga desa yang menjenguknya ramai-ramai.
Mendengar itu, Mira shock. Menangis tersedu-sedu dengan perut besarnya. Menyesal mengapa hanya sekali menjenguk dan merawat Bapak di rumah sakit.
Bergegas kami membersihkan rumah. Menarik meja, kursi, dan membentangkan karpet serta kasur di ruang tengah. Tiga puluh menit kemudian, dalam gelap, ambulance tiba dengan iringan motor di belakangnya.
Bapak pulang.
Tapi kali ini tanpa suara dan gerak. Kaku.
Tubuhnya dibopong beberapa orang. Diletakkan di kasur yang telah dibentangin kain terbaik.
Kala itu, tanggal 10 Januari 2019.
Tepat di hari batas Sahila seharusnya lahir.




Sahila datang dengan beragam cerita di sekitarnya. Kesedihan yang paripurna, dua hari sebelum ia lahir.

Sahila lahir.
Ia hadir dua hari setelah Bapak pergi. Lahir dalam keadaan normal, hal di luar prediksi dokter. Tetapi, adalah keinginan kami.
Pagi itu, Mira merasa mules. Perutnya semakin kram. Tanda-tanda mulai terbaca. Bergegas kami menuju bidan. Memastikan kondisi terakhir. Tanpa diduga ternyata telah bukaan tiga. Hanya dalam rentang enam jam, Sahila lahir dengan sangat manis.
Rambutnya lebat. Mukanya bulat. Dengan pipi merah merona.
Walau masih dalam duka, Mira memberikan tenaga terbaik hingga proses persalinan berjalan lancar.
Hingga sekarang, saya masih berpikir; apa jadinya jika Sahila lahir sebelum tanggal 10 Januari, atau tepat pada tanggal yang ditentukan. Di hari Bapak meninggal.
Mungkin cerita akan semakin rumit.
Maka di sini, jalan Allah Swt jauh lebih baik dari segala sangkaan dan rencana.

….



Sahila datang dengan beragam cerita di sekitarnya.

Hari ini, tepat dua bulan Sahila hadir di tengah keluarga kecil kami. Ia lahir 12 Januari 2019, di saat siang begitu menguning. Suara tangisannya memecah ruangan. Bahkan, hingga sekarang.
Selamat dua bulan, Sahila Banafsha Ferhat.
Semoga kehidupanmu dinaungi kemudahan, kesalehan, dan kedermawan seperti namamu.
Amin.

Bnd, 12032019




About Ferhat Muchtar

FERHAT MUCHTAR
Author/Tourism Writer. Dreamers. Ex Banker. Teller Sampai Teler.
Suka makan kuaci. Tukang koleksi buku.
email: ferhattferhat@gmail.com
Tulisan yang mungkin kamu suka × +

0 komentar:

Posting Komentar