20 November 2015

Miris! Pohon Kohler di Masjid Raya Baiturrahman Ditebang



Ada seperti ini di daerah kalian? Di kampung kalian? Di kota kalian?
Di tempat saya ada!
Selesai shalat Jumat, saya mendapat kabar tentang ditebasnya pohon sejarah: pohon kohler. Pohon yang tumbuh di pekarangan Mesjid Raya Baiturahman (MRB). Dalam bahasa Aceh pohon ini disebut bak geuleumpang (Sterculia foetida). Pohon berdaun lebar dengan rangka kokoh.
Dulu, sewaktu saya kecil, saat berkunjung ke Mesjid Raya Baiturahman, almarhum Bapak selalu singgah di bawah pohon ini. Melepas lelah dari berkeliling Pasar Aceh. Lain waktu, tempat ini menjadi lokasi persinggahan setelah kenyang minum cendol di Pasar Aceh, berbelanja di swalayan Gemini, atau membeli kue di toko Kartini.
Letaknya tepat di depan pintu masuk. Di bawah daunnya yang rimbun, almarhum Bapak mengeja cerita kepada saya teramat epik.

Disini, tanggal 14 April 1873, saat perang Aceh meletus melawan Belanda, seorang jenderal besar Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler mati dtembak tepat di jantungnya oleh mujahid Aceh. Ia bersimbah darah tepat di bawah pohon ini. Pohon geulumpang.

Pohon Kohler semasa perang Belanda di Mesjid Raya Baiturrahman

ilustrasi kematian JHR Kohler di bawah pohon geulumpang
Begitu setidaknya almarhum Bapak bercerita. Cerita sama yang terpatri singkat di marmer berbentuk persegi panjang di bawah pohon. Siapapun berkunjung ke Mesjid Raya Baiturahman seakan tertarik untuk hadir ke bawah pohon ini. Mengingat sejarah, dan menghubungkan lokasi ini dengan Kherkhof (komplek pemakaman Belanda) tempat JHR Kohler disemayamkan akhirnya.

Bagi saya, lingkungan Mesjid Raya Baiturahman adalah paket lengkap untuk melihat sejarah singkat Aceh. Sejak duduk di bangku sekolahan, sejarah 
Mesjid Raya Baiturahman berputar-putar di kepala; mesjid tempat menyusun strategi, tempat rakyat Aceh berkumpul melawan penjajah, hingga masjid yang pernah dibakar.

Cerita Mesjid Raya Baiturahman terus terbawa hingga saya besar. Membawa sejarah dengan alur cerita berbeda; tentang referendum saat ribuan warga Aceh berkumpul di sini, tentang perdamaian, hingga tsunami yang menggenangi lingkungan ini. Mesjid Raya Baiturahman selalu larut terbawa lengkap dengan atribut sekitarnya. Tak terkecuali pohon geulumpang.

Saya teringat, pohon geulumpang sempat meranggas selepas tsunami. Ia hanya tinggal cabang kerontang kering. Saat itu saya menduga, pohon geulumpang akan tamat bersebab tanah asin kena air laut. Dan rupanya, berselang bulan lepas itu, daun lebar kembali hadir di pucuk-pucuknya. Pohon geulumpang kembali rimbun. Orang-orang kembali berteduh dari terik Banda Aceh yang terbilang panas.

Dan hari ini, selepas Jumat saya kaget menerima pohon ini ditebang habis. Alasannya, pohon geulumpang terkena proyek perluasan MRB. Nanti di lokasi yang dulunya tumbuh pohon ini, akan diganti dengan payung besar layaknya Masjid Nabawi. Penebangan pohon ini melengkapi kepergian pohon-pohon besar lainnya di lingkungan MRB tempat warga kota berteduh, termasuk di dalamnya pohon qurma yang tumbuh usai tsunami.

Padahal sehari sebelumnya, saat pagi membaca koran berita perluasan MRB, saya masih berdecak kagum. Kagum di tengah mega proyek tanah yang diratakan, pohon geulumpang masih berdiri kokoh di halaman MRB. Namun kekaguman ini hilang 24 jam kemudian. Oh Tuhan!

Ini bukan cerita tentang pohon keramat, atau pohon yang dipuja-puja. Tapi ini lebih bagaimana kita merawat sejarah. Sama halnya seperti Belanda merawat sejarah dengan menamakan pohon geulumpang ini sebagai Kohlerboom yang berarti pohon Kohler.
Memang pohon geulumpang sekarang hanya ‘duplikat. Pohon asli semasa peperangan Belanda telah meranggas dimakan usia lalu mati perlahan. Namun di tahun 1988, Gubernur Aceh Ibrahim Hasan kembali menanam pohon geulumpang di titik robohnya Kohler, sebagai penanda momen bersejarah. Dan berdiri di bawah pohon ini, kita seakan diajak mengingat bagaimana dahsyatnya pejuang Aceh dahulu bertarung di halaman masjid MRB.


pohon geulumpang di area MRB semasa perang Aceh
Pohon geulumpang di MRB semasa kemerdekaan

dan pohon geulumpang pun ditebang

Gara-gara penebangan pohon ini, saya jadi teringat ucapan seorang narsum saat saya mengikuti Jelajah Budaya 2013 silam, “orang kita suka mengelu-elukan sejarahnya dahulu, tapi satu sisi juga suka menghancurkan sejarahnya sendiri.”
Mungkin hari ini salah satunya buktinya. Pohon sejarah, tempat Bapak bercerita tentang perang Aceh, tempat orang-orang dulu merekam memori tentang kota Banda Aceh, tempat orang-orang berkumpul saat masuk pertama kali ke MRB, tempat bukti kematian Kohler bukan bualan semata, kini hilang diratakan.

Mungkin suatu saat, puluhan tahun dari sekarang, saat orangtua bercerita ada Jenderal yang mati di sebuah pohon. Mungkin anak-anaknya akan mengernyit, “emangnya ngapain si Jenderal di pohon? Ribet amat hidupnya!”
Dan cerita Kohler pun terasa seperti dongeng. Asing. Persis seperti dongeng Indosiar yang Raja Ratu-nya menunggangi elang terbang. Mungkin kebingungan yang sama juga dirasakan pada suatu masa nanti, ketika orang-orang setelah kita bertanya; “Apa itu pohon geulumpang? Bagaimana wujudnya?”


Saya berharap Pemerintah Aceh terketuk hatinya untuk memulihkan kesedihan masyarakat Aceh. Meminta maaf atas ‘keteledoran’ ini. Memulihkan kesedihan dengan hilangnya sejarah ini. Sama halnya Ibrahim Hasan yang menanam kembali pohon ini di tahun 1988, saya berharap Pemerintah Aceh kali ini juga melakukan hal serupa. Entah dengan cara dan langkah apa.
Saya hanya ingin merawat ingatan melalui pohon geulumpang..





pohon geulumpang/pohon kohler 








11 komentar

November 20, 2015 at 5:57 AM Delete comments

Mungkin supaya ada yang akan terkenal lagi bang...kan tu pohon ditanam kembali oleh Gubernur kala itu setelah mati, kini ditebang trus ditanam lagi....supaya yang nanam ikut masuk buku sejarah...ntah ia pun.....

Reply
avatar
November 20, 2015 at 6:22 AM Delete comments

Inilah unik tempat kelahiran kita, tidak ada di orang ada di kita. Orang luar membangun dan membudidayakan sejarah. Lah Aceh? Atra yang kana dipeugadeh. #syedih

Reply
avatar
November 20, 2015 at 8:15 AM Delete comments

saatnya berteduh di bawah payung raksasa, naik kelas dikit kita wkwk

http://lintobaro.blogspot.com

Reply
avatar
November 20, 2015 at 8:36 AM Delete comments

Dulu sblm matahari naik,bny org tua mlgkhkan kaki ank@ untuk mngmbil keberkatan embun MRB agar si anak cpt bsa brjalan. Tapi skrg,aaaahh sdahlah,semua tggal kenangan

Reply
avatar
November 20, 2015 at 7:08 PM Delete comments

hahhahahaaa.. iya juga kali ya..
tapi ribet x caranya mau masuk dalam sejarah :'(

Reply
avatar
November 20, 2015 at 7:16 PM Delete comments

Atra yang kana dipeugadeh, yang ka dipeugadeh ka dipeugot lee..
nyan keuh..

Reply
avatar
November 20, 2015 at 7:22 PM Delete comments

nggak perlu bawa payung lagi kalau hujan. hihihi

Reply
avatar
November 24, 2015 at 12:04 AM Delete comments

Mungkin, pemerintahan ini mau terkenal. Makanya ditebang. Kan ini sudah berhasil masuk ferhatt.com. Jarang-jarang loh

Reply
avatar
November 28, 2015 at 11:40 AM Delete comments

iya.. kedua anak sayapun juga merasakan hal tersebut.. tapi nanti?? :)

Reply
avatar
December 7, 2015 at 10:29 PM Delete comments

Tdk spt di luar negeri,pohon spt itu biasanya dibongkar utk ditanam kembali ditempat lain.oh indonesiaku...

Reply
avatar
 
Ferhat Muchtar - Catatan Seru!