01 November 2018

Aduh, Sakitnya Terguling-Terguling di Tangga Hotel: Jalan-Jalan Aceh (Part 1)



Mungkin judul di atas terlalu lebay, tapi yah, begitulah...
Ceritanya, saya mendapat tugas dari kantor selama delapan hari untuk keliling di sebelas kabupaten di Aceh. Jadi dalam satu hari harus bolak balik keluar masuk hotel dan pindah ke kabupaten lain. Otomatis saya harus nginap di beberapa hotel. Mulai dari kelas bawang hingga kelas tajir.
Ternyata bolak balik masuk hotel lumayan bikin seru. Paling teringat saat nginap di Langsa. Hotelnya kece badai. Nggak besar, tapi desainnya bagus. Kamar tidurnya juga nyaman. Sangking bagusnya ada tangga melingkar di lobby yang bikin saya kagum.

Iiihh keren. Tangganya melingkar hingga menjulang ke lantai dua. Pegangannya dari besi dengan ukiran rumit. Sewaktu lihat pertama kali, saya langsung bisik ke teman sekantor.
“Kayak istana Tutur Tinular di Indosiar, ya?”
Si teman ngangguk setuju, “Ho’oh”
Ternyata tangga melingkar yang saya kagumi ini mengundang sial keesokan paginya.

Ini bermula saat pagi hari. Jam baru pukul tujuh teng. Tapi perut udah kriukk-kriuuk nggak karuan. Penasaran, itu sarapan di bawah udah disediain belum, ya. Dari pada lanjut tidur dengan kelaparan tingkat akut, saya coba pastiin ke pantry hotel.
Dan di sinilah malapetaka itu datang.
Entah kegirangan saat melihat pegawai lagi nyusun piring, saya buru-buru nurunin tangga. Tangan lupa genggam pegangan besi. Tangga melingkar ini ternyata lantainya nggak semestris. Alhasil, kaki saya melayang karena gagal nginjak lantai.
Hingga akhirnya …
Gluduk.. gluduk… gludukk…
BUKK!!



Saya tersungkur jatuh berguling-guling. Persis kayak sinetron Dude Herlino yang didamprat emak tirinya trus didorong dari lantai dua. Ini bedanya saya nggak sampai hilang ingatan.
Rasanya?! Aambooiii sakit!
Rasa lapar entah udah di mana. Nggak peduli lagi. Malah kepikiran, ini lutut retak kagak ya.
Buru-buru saya bangun. Sempat gengsi juga takut ketahuan orang lain. Perhatiin sekeliling. Kanan, kiri, aman!
Sepi!
Bahkan, pegawai pantry tetap lanjut kerja. Kayaknya mereka nggak ngeh, kalau barusan ada Dude meuseumphom di tangga.
Merasa aman, buru-buru saya turun tangga lagi.
emang ya, kalau lapar pengalaman masa lalu itu nggak penting, tsaahh

Hingga kemudian….

“Pak, hati-hati. Nanti jatuh lagi,”
Yaellah, siapa lagi tu, lancang banget!
Bapak-bapak berkumis dengan mata kuyu melongo dari meja resepsionis. Tatapannya datar. Ntah ngantuk atau menahan tawa lihat adegan guling-guling barusan.
Dunia pun seakan berhenti seketika.
Saya jadi salah tingkah yang kemudian saya sadari itu nggak penting. Lha, ngapain salah tingkah. Sejak kapan orang jatuh harus malu – walaupun kenyataannya memang iya, hiks!
“Kalau mau sarapan, masuknya lewat mana ya,” tanya saya tiba-tiba. Niatnya biar si respsionis hilang ingatan, tapi kok garing ya. Lebih-lebih muka si bapak kumis makin lempeng.
“Lha, itu di depan Bapak,” sahutnya.
Krikk … kriikk …

Gagal.
Pengalaman tangga melingkar ini jadi awalan nestapa saya saat menginap di hotel berikutnya. Termasuk saat terjebak di kamar mandi dengan air panas mengepul-ngepul. Uapnya menyebar udah kayak asap foggingnyamuk.

[Bersambung]




0 komentar

 
Ferhat Muchtar - Catatan Seru!