08 February 2018

Ada Banyak Hantu di Kampung Kami

https://dribbble.com/

Cerita hantu di komplek tempat saya tinggal telah melegenda dari semenjak saya kecil. Mulai dari komplek yang masih tanah kosong, hingga sekarang yang telah padat merayap perumahan. Cerita hantu seakan tidak ada habis-habisnya. Pernah saat saya masih kecil dan komplek masih dipenuhi tanah lapang, suara lolongan kerap terdengar ketika malam tiba. Lolongan dan lengkingan suara perempuan kerpa mengusik malam-malam saya dan anggota rumah lainnya. Makin parah sebab tetangga sebelah rumah sering kesurupan. Saya kecil tidak tahu jelas suara apa itu. Tapi orang rumah kerap menyebutnya suara kuntilanak. Maka tak heran, jika suara itu terdengar saat malam kian larut, bergegas semua penghuni rumah berlarian mematikan TV dan masuk ke kamar.

Lain waktu, saya kecil juga mendengar obrolan antara seorang ibu dan anak-anaknya dari samping rumah. Obrolan mereka seru sekali. Riuh dan penuh tawa. Suaranya nyaring memecah malam. Dalam benak kecil saya tergambar jika mereka sedang bermain seru. Si ibu sibuk menyuapkan makanan ke anaknya sambil berlarian. Suara ini juga terdengar oleh saudara kandung saya yang lain.

Namun, gambaran ini terasa ganjil sekali. Sebab obrolan itu berasal dari tanah kosong di samping rumah. Semakin ganjil sebab riuh tawa mereka berlangsung tengah malam!
Sempat menduga jika itu obrolan tetangga yang rumahnya sedikit berjarak dari tempat saya tinggal. Namun, mereka menggeleng saat dikonfirmasi.
“Kami juga sering dengar suara itu kalau malam hari,” jawab tetangga yang membuat saya semakin bergidik.

Lain waktu, saat saya telah beranjak dewasa, seorang tetangga bercerita pengalamannya saat pulang malam hari melintasi jalan komplek. Cerita ini saya dengar saat kami sedang duduk menyiapkan hajatan kawinan di rumah seorang tetangga. Di komplek, si Bapak terkenal memiliki banyak pengalaman menyeramkan. Mulai ketemu perempuan berambut panjang saat tengah malam, hingga melihat gagang pintu musala bergerak tak beraturan ketika ia melewatinya di suatu malam.

Biasanya ajang kumpul ini kerap dijadikan untuk berbalas cerita. Ternyata bukan hanya si Bapak yang mengalami cerita tak mengenakan. Tetangga lain juga mengaku pernah melihat sosok hitam menjulang tinggi selepas ia pulang salat isya dari musala. Mendengar itu saya lumayan bergidik. Sebab jalan yang ia lalui berada tepat di samping kamar saya. Berdampingan dengan tanah kosong sumber obrolan seru yang kerap saya dengar sewaktu masih kecil.

Ternyata, cerita horor dan menyeramkan ini bukan hanya dialami oleh para tetangga. Abang saya, Ariel, juga pernah mendengar suara yang memanggil namanya saat ia pulang ke rumah tengah malam. Saat itu ia sedang mendorong sepeda motor ke garasi rumah dan suara perempuan terdengar sayup-sayup.

https://dribbble.com/

Hal sama juga dirasakan, Alkaf, yang suatu malam melihat sosok perempuan duduk di dekat teras rumah yang minim penerang. Jantungnya berdegup tak beraturan. Antara takut dan penasaran, *siapa itu*. Namun saat didekati, ternyata itu hanya pot bunga. Cerita ini sempat heboh, terlebih lagi tetangga rumah juga menceritakan hal serupa. *Mereka seakan melihat perempuan duduk selayak menunggu seseorang*. Karena menakutkan, Alkaf menendang pot bunga itu hingga berguling-guling. Ibu pun menyuruh saya untuk memindahkannya ke belakang.

Bukan hanya penampakan, suara janggal pun kerap terdengar. Salah satunya dari rumah yang sempat ditinggali keluarga kecil yang menjadi korban tsunami. Selepas tsunami rumah itu kosong berbilang bulan. Namun, suara-suara janggal kerap terdengar. Seakan menceritakan kembali kebiasaan penghuni rumah. Suara percakapan tak jelas, dentingan piring, suara sikat di sumur, hingga bunyi pintu kerap terdengar saat malam dan subuh hari. Awalnya takut, tapi kelamaan seakan menjadi lumrah dan kami tidak lagi mengindahkannya.

Namun, seiring waktu suasana berubah. Komplek yang dulu sepi kini semakin semarak. Ada lapangan futsal berdiri megah yang membuat komplek menjadi ramai, riuh, terang, dan jauh dari suasana menyeramkan. Keberadaannya sedikit membawa rasa aman saat saya pulang ke rumah jika tengah malam.

Bukan hanya lapangan futsal, perumahan pun semakin banyak berdiri di sekitar komplek. Tanah yang dulu kosong kini dipenuhi perumahan beraneka rupa. Saya pun tidak lagi mendengar cerita-cerita menyeramkan dari perempatan komplek, jalan musala, atau dari rumah tetangga. Seakan hiruk pikuk pembangunan menyingkirkan para penghuni gaib itu.

Hingga suatu sore, seminggu lalu, saya dan Ibu duduk bercengkerama di teras rumah. Menikmati pisang goreng renyah. Ngobrol ini itu. Tentang jalan komplek, pipa air, pohon jambu, hingga rumah tetangga yang sedang direnovasi.
“Rumahnya lagi renovasi ya *Mak*? Lebih terang kayaknya,” tanya saya ke Ibu sambil menunjuk rumah tetangga yang tidak begitu jauh.
“Iya lebih terang, pohonnya udah dipotong. Baguslah. Soalnya Bapak di belakang sana *(sambil nunjuk rumahnya)* pernah cerita, dia lihat ibu-ibu gendong bayi di bawah pohon waktu pulang jam tiga malam,” sahut Ibu enteng.

*Glek!*

http://dreamicus.com/

0 komentar

 
Ferhat Muchtar - Catatan Seru!