28 October 2016

Menikah Itu Tentang Waktu: Kalau Sudah Tepat, Pasti Dapat!


Sejak awal saya menargetkan menikah direntang umur 28-30 tahun. Entah mengapa barisan umur itu terasa tersusun sendiri. Mungkin bisa jadi, karena orang-orang terdekat-saudara kandung- banyak menikah dalam usia serupa. Hanya bilangan sedikit, yang memilih menikah muda. Sekolah, dan karier kerja menjadi alasan. Mungkin.

Bersebab itu, sedikit banyak saya terbentuk pikiran; menikah bukan pekara buru-buru. Bukan adu cepat, atau adu hebat. Ia pilihan yang lahir dari banyak pertimbangan, dan waktu akan menjawab secara perlahan. Dan dari dulu juga, saya selalu berkeyakinan menikah itu bukan wujud perlombaan layaknya 17 agustusan. Tidak ada yang duluan menjadi pemenang, atau berada di barisan kalah. Tidak ada yang pertama atau merasa terpilih diurutan belakang.

Tuhan itu pemilik segala rahasia. Ia paling paham waktu tepat untuk dipertemukan dan dengan siapa akan dipertemukan. Cuma waktu, dan lagi-lagi ini semua rahasia. Sebab rahasia, terkadang saya cenderung lebih tidak  menjadi gila ketika orang-orang sekitar terlebih dahulu dipilih Tuhan untuk dipertemukan. Tidak menjadi galau hingga meronta-ronta berlebihan di media sosial, mencari-cari perhatian, meratapi nasib hingga orang-orang menjadi ilfeel, atau terkesan ‘membanting diri’.  Itu bukan saya sekali.

Suatu ketika, saya pernah membaca sebuah artikel bagaimana memahami perjalanan sebuah jodoh itu. Dan sedikit banyak, saya melihat jodoh itu layaknya menunggu bus di sebuah terminal. Masing-masing kita punya tiket, dan bus akan datang pada waktu ditentukan. Dari pada meratapi merutuk diri selama di terminal, kenapa kita tidak menyibukkan diri sambil menunggu bus tiba. Mungkin ada orang tua renta yang butuh dipapah ke kamar mandi, seorang Ibu yang butuh didorong kardus bawaannya, atau membantu seseorang yang tak paham mengisi formulir keberangkatan.  Hingga tanpa sadar bus akan datang pada masanya, dan kita akan berangkat.
Jika tidak datang? Mungkin Tuhan punya rencana tersendiri. Hingga suatu saat, mungkin, bukan dengan bus kita berangkat, melainkan mercy keluaran terbaru bersofa empuk.

Saya berusaha memahami artikel ini sebaik mungkin. Menikmati masa tunggu bus tiba dengan bijak; menulis buku, menabung giat, lanjutkan S2, mengambil project-project menjanjikan, bekerja sesuai passion, ngeblog gila, hingga berusaha terlibat dalam aksi sosial. Namun terkadang cara menunggu kita yang berkelas ini kerap diusik. Bukan preman terminal, tapi obrolan ala-ala warung komplek dan arisan bulanan.  Maka disini, saya menyadari tipikal orang kita terkadang kelewat ramah. Entah belajar dimana.
Bersebab meyakini bahwa jodoh itu urusan tunggal yang Diatas, sejak dulu saya paling jarang bahkan nyaris enggan menanyakan ke teman, saudara, atau siapa pun pertanyaan; “kapan kawin?”

Sebab pertanyaan kapan kawin bagi saya, sama derajatnya dengan pertanyaan; “kapan mati?” Nggak ada yang tahu, sebab itu benar-benar urusan Tuhan. Rahasia sekali. Tuhan itu paling tahu kapan waktu untuk dipertemukan, dan dengan siapa akan dipertemukan. Mungkin untuk memahami masalah ini, sering-seringlah bergaul dan mendengar cerita orang-orang terdekat, teman, rekan kerja, dan sebagainya. Semakin berbaur dan memahami hidup orang lain, kita tersadar; hidup dan menunggu bus itu complicated sekali! Bukan kayak hidupin pompa air. Itu yang saya pahami dari orang-orang terdekat.

Di luar sana saya melihat, ada yang ingin menikah namun terkendala persiapan, ingin menikah namun orangtua tidak merestui, ada yang ingin sekali menikah tapi calon mertua nggak mau, ada yang ingin menikah tapi ingin menjaga orangtua dulu, ada yang sudah persiapan matang lahir batin tapi nyatanya bus belum juga berangkat, bahkan ada yang diluar sana diam-diam telah bergerak tanpa seorang pun menyadari. Complicated!
Maka saya terkadang heran, dengan orang-orang--terutama anak-anak muda yang lebih junior-- dengan bangga selalu bertanya; “Bang kapan married?”
Hadeuh! Ampun Tuhan. Saya malah menilainya mereka belum tahu beragamnya hidup itu. Mungkin bisa jadi keluyurannya belum terlalu jauh, dan pulangnya tidak pernah larut malam. Atau belum peka yang namanya hidup. Siklus itu berganti.

Terkadang saya merindukan masa-masa dulu. Masa dimana orang-orang saling mendoakan dan membantu mencari, mencari tiket bus. Kebiasaan baik yang kini mulai jarang dilakukan. Bukan masa yang kesannya perhatian tapi wujudnya lebih seperti sindiran. Kayaknya kebiasan ini harus diubah, deh! Karena pada dasarnya, orang-orang yang kerap bertanya pada ujungnya merekalah cenderung pasif saat kita telah dipertemukan. 

Kita tidak pernah tahu, dalam diam orang-orang sedang berusaha. Tidak pernah tahu, cueknya seseorang itu sebenarnya ia telah berencana. Saya jadi teringat, ketika proses taaruf berlangsung hingga sibuk mencari desain undangan, orang-orang terus-terusan bertanya “kapan menikah?” dengan nada berbeda. Saya sempat mikir, oh Tuhan penting ya segala hal itu diceritakan ke orang-orang agar kesannya kita sedang bergerak?

Sejak menjadi orang kantoran tahun 2010, saya sudah mulai belajar konsen ke segala persiapan. Tahun pertama bekerja saya masih sedikit berfoya-foya, yang kemudian saya tahan di tahun-tahun berikutnya. Modal mahar nikahan sedikit-sedikit mulai saya kumpul. Terlebih di keluarga, pertanda seorang siap menikah adalah saat mampu membeli mahar sendiri. Saat itu belum tahu, kapan waktu dipertemukan dan dengan siapa akan dipertemukan. Belum ada bayangan. Tapi selalu dalam hati berniat; ini bagian ikhtiar. 

Maka mengumpulkan emas menjadi alternatif tabungan pengganti rupiah. Setiap ada gaji masuk dikumpulkan setiap rupiah-rupiahnya untuk beli emas. Lupakan liburan, lupakan beli motor baru, hingga saat itu juga menunda niat sambung S2. Tidak ada ketetapan pastinya berapa jumlah yang akan dikumpulkan, sebab tidak tahu akan dipertemukan dengan siapa dengan nominal mahar berapa. Terlebih untuk ukuran Aceh, niat menikah saja tidak cukup, butuh modal. Dan modal yang lumayan untuk adat yang mungkin terlihat rumit.

Ada suatu quote yang saya dapat beberapa tahun lalu, yang kemudian saya simpan erat-erat; Jodoh itu udah ada yang ngatur, jadi deketin aja yang ngantur.
Simpel. Tapi mengenanya jleb sekali.  
Ternyata yang saya pahami akhirnya modal saja tidak cukup, ada tambahan yang perlu dituruti; kedekatan dengan Tuhan. Hal yang akhirnya saya pahami menjadi modal kedua.
Maka menyadari menikah adalah menyempurnakan setengah agama, saya pun berusaha 'menyempurnakan diri'. Hal yang semua itu saya mulai selepas resign dari dunia perbankan. Mulai dari hal yang kecil-kecil; shalat tepat waktu, belajar shalat dhuha lebih rutin, buang iri dengki melihat kebahagian orang lain, tendang tunjang yang namanya dendam kesumat, menjadi orang pemaaf, hingga belajar menjadi peserta itikaf.


Dan saya yakin, seseorang itu akan dikirim Tuhan ketika kita telah menamatkan berbagai urusan di hidup ini. Urusan dalam beragam makna. Mungkin disini saya mulai paham, apa itu arti memantaskan diri yang sering saya dengar berulang-ulang.

Dan selalu berkeyakinan, Tuhan tidak akan pernah main-main dengan hati yang tidak pernah main-main.  Ia paling tahu kapan waktu paling tepat dengan orang tepat. Mungkin hari ini salah satu jawabannya.
Alhamdulillah sah, tepat pukul 08.33 WIB. Saat target usia saya sesuai, 29 tahun.

Paling syahdu waktu mendengar tausyiah tadi, teringat almarhum Bapak yang pergi tahun 2002. Terlebih penghulu mengulang-ngulang kebaikan orangtua. Kepingin nangis, tapi lucu, masak belum ijab kabul udah nangis. Nanti dikira dikawin paksa. Makin syahdu saat salam takzim sama Ibu. Ampun Tuhan, ini moment gila sekali.
Terimakasih semuanya untuk teman-teman, sahabat, sohibah, saudara, handai taulan, rekan-rekan, entah apalah namanya lagi.

Terimaksih yang sudah hadir, mendoakan dengan tulus dari bulan lalu hingga detik-detik menjelang akad. Yang hingga hari H terus-terusan menanyai kabar dan persiapan serta mengirim doa tidak henti-henti. Ternyata menerima begitu banyak doa itu luar biasa rasanya.
Terimakasih yang sudah meluangkan waktu hadir, di saat libur panjang dan lebaran yang masih menggoda. Pikirnya akan banyak yang absen hari ini, rupanya ya Allah alhamdulillah. Ada yang menunda kepulangannya ke kampung, ada yang membatalkan rapat, ada yang sengaja pulang cepat dari liburannya, ada yang tergopoh-gopoh nggak pake mandi.
Terimaksih untuk orang-orang yang luar biasa.
Allah lah terbaik pembalas segala kebaikan ini.
Satu bab hidup selesai. Lanjut ke bab lain.



Sabtu, 25 Juli 2015
(disempurnakan 27 Juli 2015)


32 komentar

July 28, 2015 at 12:43 AM Delete comments

Sama-sama, Bang! Terima kasih juga sudah izinkan untuk publish potonya.
Yes! Aku yang pertama baca, sebelum di share. :D

Reply
avatar
July 28, 2015 at 1:07 AM Delete comments

lepas baca ini. adem rasanya. sedikit keruetan perihal jodoh tak lagi jadi soalan yang runyam

Reply
avatar
July 28, 2015 at 1:09 AM Delete comments

Oke, intinya save your salary kan bg. Baiklah.

Reply
avatar
July 28, 2015 at 1:40 AM Delete comments

Kayaknya pertanyaan "kapan kawin" itu kalo selain ortu yang bertanya, mereka cuma basa-basi deh, mungkin belum menemukan pertanyaan tepat yang lain hehehe

Reply
avatar
July 28, 2015 at 1:44 AM Delete comments

sama2 Aini, postingan Aini tentang "jangn tanya kapan nikah" sangat keren..

Reply
avatar
July 28, 2015 at 1:54 AM Delete comments

Mungkin Dea bacanya didekat kulkas. makanya jadi adem. hehehe

Reply
avatar
July 28, 2015 at 2:00 AM Delete comments

yupp... Aula kan byk salary, balihonya aja dimana2..

Reply
avatar
July 28, 2015 at 2:04 AM Delete comments

iya mbak.. basa-basi berbalut perhatian. asyeekk...
mungkin pertanyaannya bs diganti: "Kamu nikahnya mau dekat kiamat ya?""

Reply
avatar
July 28, 2015 at 2:26 AM Delete comments

Bang, aku mau tanya. ini tampilan blog kekmana bikinnya? suka kali. simpel, rapi, enak diliat, nggak runyam, nggak banyak pernak-pernik, gaya minimalis. arggg pokoknya enak dilihat. udah lama aku nggak nonggrong dimari, tadi udah kubaca semua yang belum dibaca.
nah terus pas bagian REVIEU BUKU kok bisa masuk jadi masuk ke blogspot. nggak lagi ke .com.
kekmana bikinnya bang??. wordpress sama deapratini.com udah isdet. aku mau ngeblog lagi. tapi masih gagu di blogspot. bingung bikin tampilan yang simpel & rapi.

Reply
avatar
July 28, 2015 at 2:37 AM Delete comments

amazing... luar biasa bang... Selamat Menempuh Hidup Baru....

Reply
avatar
July 28, 2015 at 2:39 AM Delete comments

kuncinya hubungi Adit.
hahahaa..
abg juga nggak ngerti, Adit yang otak atik semuanya. Ini blognya bertemakan smart, simple, creative

Reply
avatar
July 28, 2015 at 3:29 AM Delete comments

http://www.nowayreturn.com/2015/07/tentang-sahabat.html?m=1

Selamat, Ferhat ... ! :-)

Reply
avatar
July 28, 2015 at 3:35 AM Delete comments

Kaukus Jomblo Peduli Syariah mengapresiasi sekali essai cerdas ini. sangat mewakili. Orang yang tanya soal Kapan Nikah, adalah orang yang tak paham makna Tuhan dalam dirinya.

Reply
avatar
Anonymous
July 28, 2015 at 4:18 AM Delete comments

Jadi ingat lagu Peterpan dalam versi Noah "Menunggu"

Reply
avatar
July 28, 2015 at 6:57 AM Delete comments

nah sekarang, udah bisa ngumpulin duit untuk tahap selanjutnya. jalan, beli kereta baru, dan beli dedek baru.. selamat bergabung di klub :D

Reply
avatar
July 28, 2015 at 6:59 AM Delete comments

huahahah. temanya begono...cocok2. tepat. okeylah kapan2 mau kutanya si adit.

Reply
avatar
July 28, 2015 at 12:33 PM Delete comments

Selamat Beuh Adun, Semoga Geu Peu Jroeh Sabe Dalam Langkah, Serta Menjadi Keluarga Yang SaMaRaTa (SAkinah, MAwaddah, waRAhmah dan TAqwa)

Reply
avatar
July 28, 2015 at 8:12 PM Delete comments

Bahagia sekali melihat Ferhat dan istri kemarin. Barakallahulakuma...

Reply
avatar
July 29, 2015 at 3:48 AM Delete comments

Mau komen apa lagi bingung. Nitip jejak aja deh hahahha

Reply
avatar
July 29, 2015 at 7:07 PM Delete comments

senang sekali ketua KJPS bersedia hadir dan kasih koment kemari..

Reply
avatar
July 29, 2015 at 7:09 PM Delete comments

Terimaksih kk Aini, terimaksih udh datang yaa

Reply
avatar
July 29, 2015 at 7:10 PM Delete comments

kalo nitip koment yang panjang dikit...

Reply
avatar
July 31, 2015 at 11:49 AM Delete comments

Karena menikah adalah melengkapi separuh agama dan mengawali bab baru yang dimulai dari 0. Selamat berbahagia dan segala cita yang kita impikan adalah menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah serta tetap menulis :)

Reply
avatar
July 31, 2015 at 3:53 PM Delete comments

Baarakallahu lakumaa wa baaraka alaikumaa wa jama'a bainakumaa fiil khair :)

Reply
avatar
August 5, 2015 at 9:03 AM Delete comments This comment has been removed by the author.
avatar
August 5, 2015 at 9:05 AM Delete comments

Bang mau tanya ketemu istrinya dmn? Teman lama kah? Saya udah banyak doa tapi belum ketemu jodoh nya :(

Reply
avatar
August 6, 2015 at 2:26 AM Delete comments

Nnti ada tulisan kedua bhas tentg itu. blm smpt nulis, lgi pusiing ngurus kerempongan pesta. Hehhehe

Reply
avatar
 
Ferhat Muchtar - Catatan Seru!