#e39608 Belanja Murah di Pulau Samosir (Serial Medan eps 4) - Ferhat Muchtar - Catatan Seru!

Belanja Murah di Pulau Samosir (Serial Medan eps 4)


Selesai keliling tempat wisata di Tomok, Pulau Samosir. Aku dan teman-teman bergegas berbelanja mengingat waktu yang sempit diberikan pemilik boat. Keluar dari Museum Batak, aku langsung menuju ke kios-kios souvenir di sepanjang jalan. Hampir rata-rata, produk yang dijual seragam antar kios. Tapi kalo kita pintar nawar, harganya bisa berbeda-beda setiap kios.

Aku teringat, saat pertama kali ke Samosir. Berbelanja disini bikin takjub. Kebanyakan harga dibuka lumayan mahal. Yahh, layaknya tempat wisata. Tapi kalo mau nawar juga nggak boleh nanggung-nanggung. Bisa setengah harga, ataupun lebih setengah harga!

Saat beli gendang khas Samosir contohnya. Gendangnya keren. Bentuknya sedikit lonjong. Motifnya bintik-bintik khas Samosir. Harganya Rp70.000/unit. Nelan ludah juga ketika tau harganya. Padahal ukurannya kecil, sekitar 20 cm. Iseng, aku coba nawar ngasal.
"Saya ambil dua, Rp 50.000 ya!"
Si Inang itu malah kaget, "NGGAK BISA. NAMBAH DIKIT LAGI LAH BANG..." entah dia ngajak ngobrol, atau malak. Suaranya itu menggelegar kemana-mana.

Aku nggak bergeming. Tetap nawar bersikeras. Dan ajaib! Harga itu sepakati, dua gendang bisa Rp 50.000! Lha..padahal harga satu unitnya sampe Rp 70.000.
Anyaman ikatan kepala yang biasa sering dililit diransel, juga bisa anjlok harganya. Dari Rp 60.000 bisa ditawar sampai Rp 20.000.

Teman-teman FLP Medan juga mengingatkan, "kalo belanja tawar setengah harga yaa." dan pesan itu tersebar berantai sesama kami. Saat mampir ke sebuah kios souvenir di dekat Museum Batak, sandal yang awalnya dibandrol Rp 45.000 bisa kudapatkan Rp 20.000. Tapi Syuhada bisa dapat lebih murah. Dia berhasil nawar sampai Rp 15.000! Bangganya tiada tara. Sepanjang perjalanan pulang, dia mengagungkan cara nawarnya yang lumayan ekstrem.

Di kios souvenir itu juga, rasa penasaranku tentang simbol cicak di kehidupan masyarakat Batak terjawab. Rupanya cicak punya nilai filosofi sendiri bagi masyarakat disana. Cicak yang keberadaannya ada dimana-mana; di rumah, pasar, warung, rumah orang kaya, orang miskin, kolong jembatan, dsb, menyimbolkan keegaliteran keberadaan masyarakat Batak yang bisa berbaur dimana saja dengan kondisi apa saja. Jadi nggak heran masyarakat Batak udah kayak orang-orang China atau orang Padang; ada dimana-mana. Sampe-sampe gereja pun punya "sekte' sendiri; HKBP (Himpunan Kristen Batak Protestan).

Disana juga aku belajar untuk membaca kalender khas Batak. Rupanya suku Batak punya kalender sendiri. Bentuknya unik. Kayak kencrengan yang sering disangkut di pondok-pondok. Terbuat dari kayu, yang terdiri dari 12 bilah panjang yang menunjukkan bulan.
"Di kalender semua bulan punya 30 hari.." kata si Ibu pemilik kios.
Lantas dia mengajari kami cara bacanya. Untuk menunjukkan hari tidak tertera tanggal, tapi lebih ke simbol-simbol seperti garis panjang, buah-buahan, garis melintang. Kalender Batak itu dulunya sering digunakan untuk melihat hari baik bagi penentuan acara-acara besar.


Kalender Batak




Belajar baca kalender Batak

Berbelanja di Samosir harus "kuat iman". Soalnya kalo kita nawar rendah, nggak serampangan mereka langsung mengiyakan. Perlu kerja ekstra untuk yakinin mereka. Terlebih bagi yang jarang dengar suara besar, bisa langsung surut kalo nggak "kuat iman". Suara-suara mereka kedengarannya memang membahana, tapi bukan berarti marah. Lha memang udah dari sono nya gitu. Mungkin karena topografi daerahnya bersebelahan dengan danau kali ya, jadi kalo suaranya lembut kecil duluan kebawa angin nggak sempat dengar.

Trus juga kalo nawar harga tapi mereka nggak langsung iyakan, kita harus "minggat" dulu dari kiosnya. Ini taktik kuno sih, tapi lumayan ampuh. Jalan beberapa langkah keluar, pasti langsung dipanggil lagi   "BANGGGGGGGGGGGG...BOLEH LAH KAU AMBIL BARANGNYA.."

Gaya "minggat' seperti itu pernah kucoba sewaktu berbelanja. Sewaktu beli T-Shirt aku nawar setengah harga. Pemilik kios nggak setuju dengan harga tawaranku. Rupanya disini beli T-Shirt dengan beda ukuran; S, M, L, XL, harganya juga beda-beda setiap ukuran. Beli ukuran S harganya Rp 40.000. Kalo M Rp 50.000 tapi kalo XL bisa sampe Rp 70.000!

Aku yang kepingin beli ukuran XL sampe mikir berulang kali. Beli ukuran yang lain sama aja, nggak muat. Coba nawarin aku minta T-Shirt ukuran XL seharga 30.000. Minta berulang-ulang nggak diberi. Coba lagi, tetap nggak dikasih. Ya udah aku pergi.
"Ahhh, nggak jadilah..."
Akhirnya aku keluar, pake gaya "minggat". Dan baru beberapa langkah keluar.
"BANGGGGGGGGGGGGGGGG...BOLEH LAH KAU AMBIL BAJUNYA,"
Jihaiiiii!!! Berhasil...

Balik langkah kembali ke kios itu, aku coba nawar lagi. "Saya ambil dua T-Shirt, RP 50.000 ibu yaaa..."
Si Ibu langsung ngangguk!!!
Hahahhahaaa..
Nggak ngerti dah jualan si Ibu gimana.

Souvenir


Ditempat lain, sewaktu berbelanja pertama kali aku juga sempat ketakutan. Ketika nawar ini itu dengan harga sangat miring, si Abang nyahutnya kegedean. Ntah marah, tersinggung, auk deh nggak ngerti. Yang pasti sewaktu barangnya berhasil aku beli dengan harga sangat miring, dia malah ngoceh dengan bahasa Batak dengan Ibu tetangga kios seberang. Suaranya kegedean, lha padahalkan cuma seberang. Nggak jauh-jauh amat. Si Ibu juga nggak mau ngalah. Berdua mereka ngobrol dengan bahasa Batak sambil ngelirik-lirik aku. Jiaaahhhhh gosip ne rupanya. Ketakutan, aku langsung ngacir.

Ada juga obrolan yang bikin aku terkesima. Sewaktu aku beli souvenir di sebuah kios. Si Ibu tanya, "Darimana?"
"Dari Aceh.." sahutku.
Matanya langsung berbinar. OOhh, rupanya bagi mereka wisatawan Aceh lumayan baek-baek. Kalo belanja nggak pernah sedikit, pasti banyak. "Trus kalo nawar harga pasti baik-baik.."
Aku terkekeh. Ntah iya pun.

Dengan waktu yang sempit, aku dan teman-teman bisa kebeberapa tempat wisata andalan Samosir sekalian belanja banyak souvenir. Husna dan Laras jadi juaranya kalo belanja. Selain harganya bisa nego sampe semurah mungkin, belanjaan mereka juga paling banyak diantara kami. Serasa kayak Miss. Jinjing mereka berdua.
Ketika lagi seru-serunya milih barang, nakhoda feri nyusul ke pasar. Mengabarkan kalo feri mau berangkat, yang berarti waktu kami di Samosir telah usai. Bergegas kami menuju ke pelabuhan. Kembali menyeberang ke daratan di seberang.

Dara dan Husna menuju pelabuhan


Kami kembali berkumpul di halaman luas rumah pengasingan Soekarno. Menjelang sore aku dan teman-teman kembali menuju kota Medan. Menambah liburan di kota metropolitan itu. Beberapa tempat telah kami incar untuk dikunjungi. Selain kuil Hindu Shria Mariamman, kami juga berencana mengunjungi tempat penangkaran buaya yang diklaim terbesar di Asia Tenggara. (bersambung)










About Ferhat Muchtar

Ferhat Muchtar
Author/Tourism Writer. Dreamers. Ex Banker. Teller Sampai Teler.
Suka makan kuaci. Tukang koleksi buku.
email: ferhattferhat@gmail.com
Tulisan yang mungkin kamu suka × +

2 komentar:

  1. Seru juga jalan-jalan ke Samosir. harus kuat mental dalam menawar barang ya. He,,,x9

    Salam,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mas udah mampirrr.. salam kembali..

      Hapus